Menurutcatatan Alkitab, saat itu bangsa Israel sudah mengenal KALENDER dan TULISAN. Kalender adalah alat dan sistem pencatatan saat dan waktu. Ajaran itu menguasai Timur Tengah dan Israel kemudian menyebar ke ERopa bahwa BUMI itu datar. hai hai on 14/10/2017 at 8:53 am said: Kisah penciptaan ditulis dengan pengetahuan alam pada jaman Namun terdapat pihak yang tidak setuju dengan hal itu hingga mengemukakan teori lain bahwa bumi itu datar. Konspirasi teori bumi datar tidak terlepas oleh sosok Samuel Rowbotham (1816-1884). Rowbotham menafsirkan beberapa ayat di Alkitab yang menghasikan sebuah buku setebal 430 halaman. MenurutAlkitab, Bumi itu Datar. September 10, 2018. RISING POST IN 3 DAYS. PERAYAAN EKARISTI TAHBISAN EPISKOPAL Agenda April 22, 2022. Rumah Doa umat Katolik Agenda November 21, 2017. Jadwal Komunitas Misa Jumat Agenda October 4, 2019. Enam Imam Baru akan Agenda November 24, 2017. BumiIni Bulat atau Datar? Tahukah Adik-adik, pertanyaan ini sering ditanyakan loh . Tidak hanya oleh anak-anak, tetapi juga oleh orang dewasa. Kita akan bahas di sini, tapi sebelumnya patut diingat bahwa sangatlah penting untuk membahasnya berlandaskan bukti terbaru karena kita sedang berbicara sains. Bicara sains tanpa bukti itu sama saja Bumidatar adalah keyakinan khalayak umum di Eropa sebelum Galileo Galilei sekitar awal tahun 1600-an membuat keributan dengan mengatakan bumi berbentuk bulat dan mengelilingi matahari sebagai pusat sistem tata surya. Padahal, saat itu masyarakat Eropa --dan Gereja-- percaya bahwa bumi datar dan merupakan pusat tata surya, bukannya matahari. Jawaban Keberadaan Allah tidak dapat dibuktikan ada atau tidak ada. Alkitab menyatakan bahwa kita harus menerima fakta bahwa Allah itu ada melalui iman: "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh Iniadalah argumen yang mereka ajukan dengan berbagai interpretasi terhadap fisika, optik, dan Alkitab, menolak semua bukti yang bertentangan sebagai konspirasi. Menurut Datafolha, warga Brasil yang meyakini Bumi itu datar kebanyakan laki-laki, sering kali Katolik atau Kristen Evangelis, dan dengan tingkat pendidikan relatif rendah. NIV but streams came up from the earth and watered the whole surface of the ground— AYT: Namun, ada kabut yang keluar dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi. TB: tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu-- TL: melainkan naiklah uap dari bumi serta membasahkan segala tanah itu. MILT: Dan kabut dari bumi naik ke atas lalu membasahi seluruh Trofiini menjadi perhatian kelompok Bumi Datar yang tergabung dalam akun Facebook Flat Earth Believers. Akun ini memosting usulan untuk mengubah trofi Piala Dunia, bukan dalam model yang dikenal selama saat ini. apakah usulan ini benar sebab bukti dan fakta telah menunjukkan bahwa Bumi itu bulat. Baca Juga : Timnas Kroasia, Finalis Piala MenurutTjasyono (2016), teori bumi bulat telah lama diperkenalkan oleh sejumlah ilmuwan dan filsuf mulai dari Aristoteles (330 SM) hingga Phytagoras (500 SM). Selain itu, Ptolemy juga mengajukan teori yang menyatakan bahwa bumi berada di pusat alam semesta. Bulan mengelilingi bumi dalam orbit paling dekat sedangkan bintang-bitang berada pada zYQTcI. Understanding the eschatology of each group or ecclesiastical school is quite diverse because this subject is indeed a difficult thing. This paper, Pengaruh Kosmologi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab The Influence of Flat Earth Cosmology in Bible Eschatology, aims to re-explore biblical texts relating to eschatology or the end of time. Of all the biblical texts available, it is found that the end times do not talk about the destruction of the earth and/or the universe and replace it with something completely or absolutely new, but only include natural disasters without destroying the absolute earth and/or the universe, so it is the renewal of the earth/universe that exists, now, inhabited by humans. This paper is the result of library research using the historical-critical hermeneutic method of the biblical texts used, including the two-source theory for the synoptic gospels. What is intended in this paper is that many eschatological texts or the texts discuss about the end times in the Bible, both Old Testament as also the New Testament, are strongly influenced by the understanding of flat-earth cosmology, so that reading of these biblical texts should not be carried out using the understanding of modern round-earth cosmology round. AbstrakPemahaman eskatologi masing-masing kelompok atau aliran gerejawi cukup beragam karena memang pokok ini adalah hal yang sulit. Makalah ini, Pengaruh Kosmo-logi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab, bertujuan untuk menggali ulang teks-teks biblis yang berkaitan dengan eskatologi atau akhir zaman. Dari semua teks biblis yang ada, maka ditemukan bahwa akhir zaman tidak berbicara mengenai penghancuran bumi dan/atau alam semesta dan menggantikannya dengan sesuatu yang sepenuhnya atau mutlak baru, melainkan hanya menyertakan bencana-bencana alam tanpa menghancur-kan mutlak bumi dan/atau alam semesta, sehingga itu merupakan pembaruan bu-mi/alam semesta yang ada, yang sekarang, yang didiami manusia. Makalah ini merupa-kan hasil penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode hermeneutik historis-kritis atas teks-teks biblis yang digunakan, termasuk teori dua sumber bagi Injil-injil sinoptik. Yang hendak dibuktikan dalam makalah ini adalah terdapat banyak teks eskato-logis atau tentang akhir zaman dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang sangat dipengaruhi oleh pemahaman kosmologi bumi datar flat-earth cosmology, sehingga pembacaan teks-teks biblis tersebut tidak boleh dilakukan dengan menggunakan pemahaman kosmologi bumi bulat round-earth cosmology. Content may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 90 Pengaruh Kosmologi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab Asigor P. Sitanggung Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta asigorps DOI Abstract Understanding the eschatology of each group or ecclesiastical school is quite diverse because this subject is indeed a difficult thing. This paper, Pengaruh Kosmologi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab The Influence of Flat Earth Cosmology in Bible Eschatology, aims to re-explore biblical texts relating to eschatology or the end of time. Of all the biblical texts available, it is found that the end times do not talk about the destruction of the earth and/or the universe and replace it with something completely or absolutely new, but only include natural disasters without destroying the absolute earth and/or the universe, so it is the renewal of the earth/universe that exists, now, inhabited by humans. This paper is the result of library research using the historical-critical herme-neutic method of the biblical texts used, including the two-source theory for the synoptic gospels. What is intended in this paper is that many eschatological texts or the texts discuss about the end times in the Bible, both Old Testament as also the New Testament, are strongly influenced by the understanding of flat-earth cosmology, so that reading of these biblical texts should not be carried out using the understanding of modern round-earth cosmology round. Keywords cosmology; destruction of the earth; end times; eschatology; flat earth; natural disasters; renewal of the earth Abstrak Pemahaman eskatologi masing-masing kelompok atau aliran gerejawi cukup beragam karena memang pokok ini adalah hal yang sulit. Makalah ini, Pengaruh Kosmo-logi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab, bertujuan untuk menggali ulang teks-teks biblis yang berkaitan dengan eskatologi atau akhir zaman. Dari semua teks biblis yang ada, maka ditemukan bahwa akhir zaman tidak berbicara mengenai penghancuran bumi dan/atau alam semesta dan menggantikannya dengan sesuatu yang sepenuhnya atau mutlak baru, melainkan hanya menyertakan bencana-bencana alam tanpa menghancur-kan mutlak bumi dan/atau alam semesta, sehingga itu merupakan pembaruan bu-mi/alam semesta yang ada, yang sekarang, yang didiami manusia. Makalah ini merupa-kan hasil penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode hermeneutik historis-kritis atas teks-teks biblis yang digunakan, termasuk teori dua sumber bagi Injil-injil sinoptik. Yang hendak dibuktikan dalam makalah ini adalah terdapat banyak teks eskato-logis atau tentang akhir zaman dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang sangat dipengaruhi oleh pemahaman kosmologi bumi datar flat-earth cosmology, sehingga pembacaan teks-teks biblis tersebut tidak boleh dilakukan dengan menggunakan pemahaman kosmologi bumi bulat round-earth cosmology. Kata kunci akhir zaman; bencana alam; bumi datar; eskatologi; kosmologi; pembaharuan bumi; penghancuran bumi Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online Volume 3, No 1, Juni 2020; 90-101 Available at Asigor P. Sitanggung Pengaruh Kosmologi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 91 1. Pendahuluan Eskatologi berasal dari kata εχαο eskhatos yang berarti yang terakhir’ atau hal-hal yang terakhir’.Eskatologi berarti cabang ilmu teologi yang mempelajari atau memba-has topik akhir zaman. Yang dimaksud dengan akhir zaman adalah berakhirnya alam semesta ciptaan Tuhan dan digantikan dengan bumi baru dan langit baru. Eskatologi sendiri mencakup periode waktu yang panjang, bahkan sangat panjang. Bagi aliran teologi tertentu, malah periode eskatologis dimulai sejak kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan-Nya dipahami sebagai permulaan zaman akhir ἐχά ου ͂ ν ἡ μερ͂ ν. Ujung dari zaman akhir adalah akhir zaman υνελείᾳ οῦ αἶ νο, yaitu kedatangan-Nya kembali. Merriam-Webster Dictionary mendefinisikan kosmologi sebagai a sebuah cabang metafisika yang berkaitan dengan natur alam semesta, atau sebuah teori yang menjelas-kan tatatan alam semesta; b sebuah cabang astronomi yang berurusan dengan asal-mula, struktur, dan relasi-relasi waktu-tempat dari alam semesta, atau teori-teori yang berhubungan dengan hal-hal dengan demikian dapat dipahami sebagai sebuah bagian dari ilmu pengetahuan. Namun dalam konteks makalah ini, definisi pertama yang digunakan, yaitu teori atau paham atau gagasan yang menjelaskan tatanan alam semesta, yang juga mencakup bumi. Dalam makalah ini, yang hendak dibuktikan adalah bahwa kosmologi bumi datar yang dipahami pada umumnya oleh masyarakat kuno yang menghasilkan Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memengaruhi secara kuat gagasan akhir zaman dalam Alkitab. Kosmologi bumi datar mesti dipahami untuk memahami apa yang dimaksud oleh Alkitab ketika ia berbicara tentang akhir zaman dan tidak boleh dibaca dalam pemahaman kosmologi bumi bulat yang modern. Ketika upaya dekonstruksi ini dilakukan, maka ditemukan bahwa Alkitab tidak sedang mengajarkan gagasan tentang akhir zaman yang menghancurkan secara menyelu-ruh bumi dan/atau alam semesta, melainkan merestorasi alam. Akhir zaman biblis hanya menyertakan bencana alam tetapi bukan destruksi total atas bumi dan alam semesta. 2. Metode Penelitian Makalah ini merupakan hasil penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode her-meneutik historis-kritis atas teks-teks biblis yang digunakan. Yang hendak dibuktikan dalam makalah ini adalah banyak teks-teks eskatologis atau tentang akhir zaman dalam Alkitab khususnya Perjanjian Baru sangat dipengaruhi oleh pemahaman kosmologi bumi datar flat-earth cosmology, sehingga pembacaan teks-teks biblis tersebut tidak boleh dilakukan dengan menggunakan pemahaman kosmologi bumi bulat round-earth cosmology. Pembaca-pembaca modern modern readership mesti membaca teks-teks Douglas ed. penyelia Ensiklopedia Alkitab Masa Kini jilid 1 Jakarta YKBK, 1995, 286. entri cosmology. BIA’ Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Vol 3, No 1 Juni 2020 Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 92 eskatologis dalam Alkitab tersebut sebagaimana dipahami oleh orang-orang pada masa teks-teks tersebut muncul dan ditulis. 3. Pembahasan Kosmologi Yunani Kuno Mitologi Yunani – Bumi itu Bulat atau Datar? Kebanyakan filsuf Yunani pra-Sokrates meyakin bahwa bumi adalah datar. Beberapa ahli berkata bahwa para pengikut Pithagoras yang mengajarkan kosmologi bumi bulat spherical. Sebagian lain mengatakan bahwa Parmenides yang pertama kali meng-ajukan gagasan tersebut. Namun sebaliknya, Plato, dalam bukunya Phaedo 110b, menegaskan bahwa bumi itu bulat. Aristoteles juga kemudian berargumen bahwa bumi itu bulat. Aristoteles memperoleh banyak pengikut. Walau demikian, lawannya tidak kalah kuat. Di antara mereka adalah, Thales, Simplicius dan Anaxagoras. Namun dalam perjalanan sejarah, argumentasi-argumentasi Anaxagoras dkk. lebih diterima oleh publik pada zaman itu. Plato dan kemudian Aristoteles gagal dalam menyakinkan masyarakat bahwa bumi adalah memberikan argumentasi matahari yang dalam pengamatan bergerak dari Timur ke Barat dari titik pengamatan di bumi menghasilkan horizon yang datar. Menurut Couprie, Aristoteles tidak benar-benar mampu mengalahkan argumentasi Anaxagoras. Padahal menurutnya, itu sesungguhnya adalah ilusi optikal. Konklusi horizon datar akan tetap didapat, entah seseorang berpandangan kosmologi bumi datar ataupun bumi bulat. Gambar 1 Model kosmologi bumi datar yang diyakini oleh budaya- budaya kuno termasuk Mesir, Yunani-Romawi, dan juga Ibrani. © Dirk L. Couprie, Heaven and Earth in Ancient Greek Mythology New York Springer, 2011, h. 181. Jean-Claude Pecker, Understanding the Heavens Thirty Centuries of Astronomical Ideas from Ancient Thinking to Modern Cosmology Berin Springer Verlag, 2001, 43. Thales dan filsuf-filsuf Yunani lainnya memiliki pemahaman kosmologi bumi datar yang sama dengan budaya-budaya kuno lainnya, seperti Mesir dan Ibrani. Couprie, Heaven and Earth, 181. Couprie melakukan sebuah kajian yang menarik sekali, dengan menggunakan argumentasi kedua belah pihak, dan melihat bagaimana Aristoteles tidak berhasil melihat bahwa itu bergeraknya matahari. Asigor P. Sitanggung Pengaruh Kosmologi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 93 Οὐραν dalam Mitologi Yunani Kuno Dalam Alkitab Perjanjian Baru, οὐραν οuranos seringkali digunakan untuk merujuk kepada tiga hal yang berbeda, yaitu langit, angkasa ataupun surga. Dalam bahasa Latin, ia disebut Uranus. Dalam mitologi Yunani kuno, Ouranos adalah dewa personifikasi dari langit. Ouranos adalah anak sekaligus suami dari Gaia, putri dari Chaos. Ia adalah salah satu dewa primordial protogenos atau yang pertama. Orang-orang Yunani kuno membayangkan langit Yun. οὐραν sebagai sebuah dome atau kubah yang solid dari kuningan, didekorasi dengan bintang-bintang, di mana sudut-sudutnya turun hingga batasan-batasan paling jauh dari bumi datar. Ouranos juga dipahami sebagai langit secara harfiah, sama halnya dengan Gaia Gaea adalah bumi secara harfiah. Ouranos and Gaia memiliki 12 putra dan 6 putri. Ia mengurung yang paling tua dari anak-anaknya – raksasa Kyklopes Cyclopes – Mata Satu dan Hekatonkheires Hundred Handers – Ratusan Tangan –jauh ke dalam perut bumi. Karenanya, Gaia menderita sakit yang luar biasa dan membujuk anak-anak Titannya untuk memberontak. 4 dari anaknya berasa di sudut-sudut bumi, siap untuk menangkap ayah mereka ketika ia turun ke bu-mi, sementara anak kelima, Khronos Cronus, mengambil tempat di tengah dan menge-birinya dengan sabit adamantine logam mitologis yang tidak bisa patah. Darah dewa langit tertumpah ke bumi, yang melahirkan Erinyes Furies and the Gigantes raksasa-raksasa yang penuh raja para titan, dan istrinya Rhea berkuasa atas dunia para dewa. Namun Ouranos meramalkan kejatuhan para Titan dan penghukuman yang akan mereka derita karena kejahatan mereka, bahwa salah satu anak dari Khronos akan mengalahkan mere-ka– sebuah nubuat yang digenapi oleh Zeus yang membuang kelima saudara tersebut ke dalam Tartaros. Terjadinya perang antara para Titan melawan Zeus dan kelompok-nya, yang seringkali disebut Olympians. Dalam versi lain, Khronos sendiri yang memakan lima anaknya yang pertama, dan Rhea menyelamatkan Zeus dari terkaman Khronos, ia dikebiri, Ouranos tidak pernah lagi menutupi bumi di malam hari, dan tia-da lagi kelahiran. Ia adalah langit yang dipahami oleh orang-orang Yunani kuno sebagai kubah perunggu yang ditopang oleh Atlas sang raksasa. Dalam puisi-puisi Homerik, Ouranos kadangkala menjadi nama alternatif bagi Olympus sebagai tempat kolektif dewa-dewa. Olympus hampir selalu digunakan sebagai rumah dari dewa-dewa Luke Roman dan Monica Roman, Encyclopedia of Greek and Roman Mythology New York Facts on File, 2010, 508. Michael Taft ed., Greek Gods and Goddesses New York Britannica, 2014, 120. Roman, Encyclopedia of Greek, 508. Kathleen Daly dan Marian Rengel, Greek and Roman Mythology A to Z New York Facts on File, 2004,130; Robin Hard, The Routledge Handbook of Greek Mythology London Routledge, 2004, 68. Michelle M. Houle, Gods and Goddesses in Greek Mythology Berkeley, Enslow Publisher, 2001, 30. BIA’ Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Vol 3, No 1 Juni 2020 Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 94 Olympian, namun Ouranos seringkali merujuk kepada langit alamiah yang ada di atas kita tanpa berbicara mengenai dewa-dewa, yang secara bersama tinggal di atas sana. Tahta mula-mula para dewa adalah Gunung Olympus, yang mana kemudian tradisi epik pada zaman Homer diubah menjadi ke langit, Ouranos. Ouranos menjadi sejak saat itu langit nun jauh yang menjadi tempat kediaman tidak sering muncul dalam kesenian Yunani tetapi gambaran Mesir tentang dewi langit Nut menggambarkan bagaimana ia dibayangkan raksasa, pria dengan penuh bintang dan kaki serta tangan yang panjang, berbaring di semua empat sudut, dengan ujung-ujung jari tangannya di timur jauh dan jempol kakinya di barat jauh, dan tubuhnya membentuk kubah langit. Dalam periode Romawi, ia digambarkan sebagai Aeon atau Aion, dewa waktu yang abadi, dengan bentuk seorang pria memegang roda zodiak, berdiri di atas Gaia yang berbaring Bumi.Kosmologi Yahudi Kuno Narasi Kejadian Dalam upaya revisi Alkitab Perjanjian Lama oleh LAI, salah satu usulan revisi yang menarik perhatian terkait pokok bahasan makalah ini adalah pada revisi narasi penciptaan dalam Kitab Kejadian. Kejadian 11-24, TB LAI menggunakan istilah cakrawala’ yang merupakan terjemahan dari ַ עיִק ָר raqiyah. Istilah ַ עיִק ָר secara harfiah berarti lempengen cekung’atau kubah’. LAI dalam upaya revisi Perjanjian Lama menggantinya dengan lempengan cakrawala’ ay. 7a dan kubah’ ay. 7b, 8, 14, 15, 17. Hal ini disampaikan dalam Konsultasi Nasional Revisi Alkitab Terjemahan Baru Konas TB2, 7-9 Februari 2018 di Caringin, Jawa Barat. Informasi lisan yang diterima beberapa waktu setelah Konas ini berakhir, terjemahan kubah’ ini ditolak. Nampaknya, ada semacam dialektika dalam mengusulkan istilah lempengan’ dan kubah’ dalam upaya revisi tersebut. Dialektika yang dimaksud adalah antara meng-gunakan pemahaman modern real readers terkait kosmologi atau menggunakan pema-haman kuno terkait kosmologi yang dipahami oleh masyarakat penerima asli implied readers narasi penciptaan ini. Dalam usulan revisi tersebut, berarti LAI memilih untuk mengikuti pemahaman kosmologi kuno yang dipahami masyarakat Ibrani kuno sebagai penerima penciptaan dalam Kitab Kejadian pasal 1 merupakan bagian dari pemahaman kosmologi bumi datar orang-orang Ibrani The Routledge Handbook, 80. Couprie, Heaven and Earth, 7. Brown-Driver-Briggs, dan Strong, entri ַ עי ִק ָר. LAI, Merajuk Kebersamaan dalam Sabda Konsultasi Nasional Revisi Alkitab terjemahan Baru Konas TB2 Jakarta LAI, 2018, 37, 45-47. Hal ini didiskusikan oleh Anwar Tjen, dalam Merajut Kebersamaan, 37. Untuk mendalami pokok ini, lihat John Walton, The Lost World of Genesis One Ancient Cosmology and the Origins Debate Downers Grove Intervarsity Press, 2009, 14. Asigor P. Sitanggung Pengaruh Kosmologi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 95 Gambaran Umum Perjanjian Lama Perjanjian Lama memberikan gambaran matahari-bumi yang jelas merupakan sebuah gambaran dari pemahaman kosmologi bumi datar. Matahari selalu disebut terbit dari timur dan terbenam di sebelah barat di sepanjang Perjanjian Lama. Dari 164 ayat yang menyebutkan matahari, sekitar 100 ayat berbicara menyangkut matahari yang terbit dan terbenam. Dengan kata lain, matahari digambarkan oleh Perjanjian Lama sebagai benda penerang langit yang bergerak mengitari bumi. Dari semua teks itu, narasi dalam Kitab Yosua adalah yang paling menarik. Yosua 1012-13 berisikan narasi di mana Yosua berdoa meminta matahari dan bulan berhenti bergerak, dan sesuai dengan doanya, maka matahari dan bulan pun berhenti bergerak. Memahami bahwa inilah konteks pada zaman Yosua, para penafsir mengabaikan kemus-tahilan tindakan ini. Mereka umumnya memahami bahwa ini adalah tindakan yang digambarkan dalam narasi Yosua menghentikan matahari ini tentu merupakan gambaran yang jelas bukan hanya pada pengaruh besar pemahaman kosmologi bumi datar melainkan juga pemahaman tatasurya geosentris dan bukan heliosentris. Kosmologi bumi datar memang selalu berkaitan dengan pemahaman tatasurya atau lebih tepatnya, tatabumi yang geosentris. Ini menjadi semacam dua sisi satu mata uang. Kosmologi-Eskatologi dalam Perjanjian Baru Injil-injil Injil-injil sinoptik adalah injil-injil yang menceritakan biografi pelayanan Yesus dari perspektif yang sama dan menyusunnya secara kronologis. Injil-injil sinoptik adalah Markus, Matius dan Lukas. Dari ketiganya, Markus adalah injil tertua. Matius dan Lukas menggunakan Markus sebagai sumber mereka. Selain Markus, para ahli menyatakan bahwa Matius dan Lukas menggunakan sumber hipotetis untuk kisah-kisah yang tidak ada dalam Markus. Sumber hipotetis ini disebut Sumber Q dari kata Quelle’ bahasa Jerman yang berarti sumber-sumber’. Markus tidak banyak berkisah tentang akhir za-man. Satu-satunya narasi tentang eskatologi atau akhir zaman adalah Markus 13. Narasi Markus 13 ini bisa dilihat sebagai nubuat akan akhir zaman. Namun ia juga bisa dilihat sebagai suatu vaticinium ex eventu harf. nubuat setelah kejadian, yaitu bahwa Markus menyampaikan suatu kejadian yang sudah terjadi dalam bentuk sebuah narasi Matius, eskatologi atau akhir zaman dan yang terkait dengan itu dibahas lebih banyak, yaitu dibahas dalam pasal 24 dan 25. Namun pasal 24 merupakan kutipan dari Markus 13 yang kemudian disertai tambahan-tambahan. Pasal 25 adalah khas Matius. Karena tidak ada baik dalam Markus maupun dalam Lukas, maka pasal 25 dipahami sebagai bersumber dari sumber ketiga, yang seringkali disebut Sondergut M. Gordon Mitchell, Together in the Land A Reading of the book of Joshua Sheffield Sheffield Academic Press, 1993, 88. Victoria Balabanski, Eschatology in the Making Mark, Matthew and Didache Cambridge Cambridge University Press, 1997, 70-72. BIA’ Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Vol 3, No 1 Juni 2020 Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 96 Serupa dengan Matius, dalam Lukas eskatologi atau akhir zaman dan yang terkait dengan itu merupakan kutipan dari Markus yang hanya disertai tambahan-tambahan. Narasi eskatologis ini ada dalam Lukas 21. Injil Yohanes tidak membahas tentang eskatologi atau akhir zaman secara khusus dengan gamblang. Ia hanya sedikit di sana-sini menyebutkan secara tidak langsung bahwa Tuhan akan datang kembali dan membawa murid-murid-Nya ke rumah Bapa karena Ia telah menyediakan rumah di sana Yoh. 143. Selebihnya, Yohanes tidak memberikan penjelasan apapun terkait eskatologi. Karena Markus 13, Matius 24 dan Lukas 21 adalah sama, dan Markus merupakan sumber dari Matius dan Lukas untuk narasi ini, maka makalah ini hanya membahas Markus 13. Struktur Markus 13 Ayat 1-2 Nubuat keruntuhan Bait Allah di Yerusalem Ayat 3-11 Tanda-tanda kedatangan nubuat ay. 1-2 Ayat 14-23 Datangnya Sang Pembinasa Keji Ayat 24-27 Kedatangan Anak Manusia Ayat 28-31 Pelajaran dari pohon Ara Ayat 32-37 Tiada yang tahu hari atau waktunya Ayat 1 berisikan ungkapan kekaguman para murid akan Bait Suci Yerusalem. Ayat ini menunjukkan kompleks Bait Allah, dan bukan hanya Bait Allah saja, tetapi semua bagiannya, termasuk istana Imam Besar dan bangunan-bangunan lain. Ayat 2 berisikan perkataan nubuat Yesus bahwa Bait Suci tersebut akan diruntuhkan. Dikatakan bahwa tidak satupun dibiarkan satu batu terletak di atas batu lain. Semua akan diruntuhkan dan dihancurkan. Perspektif akan Konteks Markus 131-2 Sebagian ahli biblika Perjanjian Baru akan menyatakan bahwa narasi Markus 131-2 merupakan suatu Vaticinium ex eventu, yaitu narasi berbentuk nubuat yang sesung-guhnya ditulis melihat ke belakang. Atas dasar pemahaman ini, maka mereka meyakini bahwa dengan demikian Markus ditulis pada tahun 70-an. Jika melihat dari perspektif ini, maka ini bukan nubuat eskatologis atau akhir zaman. Namun sebagian ahli lain berkata bahwa narasi ini bisa juga dipahami sebagai nubuat. Argumentasinya adalah bahwa Zakharia juga, beberapa abad sebelum kelahiran Yesus sudah bernubuat akan kehancuran Yerusalem lih. Zak. 14. Atas dasar pemahaman ini, maka mereka meyakini bahwa Markus ditulis pada tahun 60-an. Bila demikian, maka ini adalah nubuat dan dapat dikategorikan sebagai nubuat eskatologis atau akhir 5-13 Jawaban Yesus Yesus kemudian memberikan jabaran akan kejadian-kejadian eskatologis, bahwa akan ada mesias-mesias palsu ay. 5-6, akan ada peperangan tetapi belum kesudahannya ay. 7, akan ada persekusi ay. 9, Injil akan diberitakan ke seluruh dunia ay. 10 dan kemudian persekusi diulangi ay. 12-13. Balabanski, Eschatology in the Making, 71-72. Asigor P. Sitanggung Pengaruh Kosmologi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 97 Ayat 24-27 Kedatangan Anak Manusia Bagian ini adalah bagian apokaliptik dari Injil Markus yang menunjukkan gagasan kos-mologinya. Sesudah siksaan yang diceritakan di atas, matahari menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya ay. 24. Kemudian bintang-bintang berjatuhan dan kuasa-kuasa langit akan goncang ay. 25. Anak Manusia datang di awan-awan ay. 26. Malaikat-malaikat datang mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari segala penjuru ay. 27. Bila melihat penjabaran bagian ini, maka penjelasan bintang-bintang berjatuhan dan kuasa-kuasa langit akan goncang merupakan gambaran yang dipengaruhi oleh kos-mologi bumi datar yang dipahami baik oleh orang-orang Ibrani kuno, Mesir kuno atau-pun Yunani-Romawi kuno. Namun sebagian penafsir mengabaikan hal ini. Bintang-bintang yang dipahami sebagai dekorasi langit berjatuhan menimpa bumi ay. 25, na-mun bumi tidak hancur sama sekali, bahkan Anak Manusia digambarkan bersama para malaikat mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi ay. 27. Membaca teks ini sebagai bagian dari gambaran pemahaman kosmologi bumi datar, maka menjadi wajar bila bintang-bintang, yang hanyalah dekorasi langit, berjatuhan me-nimpa bumi, bumi tetap ada dan banyak orang tetap hidup. Kisah para Rasul Kisah Para Rasul 16-11 menceritakan tentang kenaikan Yesus ke surga. Ayat 9 menya-takan bahwa Yesus terangkat sampai awan-awan menutupi-Nya. Ayat 10 menyatakan mereka menatap ke langit waktu Ia naik. Kehadiran dua orang berpakaian putih, yang dipahami sebagai malaikat, menegaskan bahwa Yesus terangkat ke surga. Kisah yang tentunya diyakini historis ini bercerita bahwa Yesus ke surga dengan cara terangkat ke atas, menembus awan-awan. Tentunya ini juga gambaran kosmologi bumi datar. Eskatologi dalam Surat-surat Dalam Corpus Paulinum atau Surat-surat Paulus, tidak banyak bagian yang membahas tentang eskatologi, khususnya dalam kaitan dengan kosmologi bumi datar. Dalam 1 Korintus 15, Paulus membahas tentang kebangkitan, yang dimulai dari kebangkitan Kristus, kebangkitan orang-orang mati dan kemudian kebangkitan tubuh. Namun tidak disinggung gagasan tentang kosmologi bumi datar. Dalam eskatologi 1 Korintus, kedekatan kedatangan kembali Kristus terlihat. 1 Kor. 1551 menyatakannya “Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah…” Istilah “kita” yang digu-nakan dalam kalimat ini bagi banyak ahli yang dimaksud adalah Paulus dan jemaat 1 Cf. Timothy J. Geddert, Believer’s Church Bible Commentary Mark Scottdale Herald Press, 2001, 314, 315; W. R. Telford, The Theology of the Gospel of Mark Cambridge Cambridge University Press, 1999, 208. BIA’ Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Vol 3, No 1 Juni 2020 Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 98 Korintus serta semua orang percaya lainnya pada zaman itu. Namun ada juga yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang percaya saat itu Tesalonika Surat 1 Tesalonika adalah surat yang ditulis paling awal oleh Rasul Paulus kepada jema-at di Tesalonika. Paulus menegaskan bahwa Anak Allah akan datang kembali. Ia datang dari surga di mana akan ada murka, namun para pengikut-Nya akan dihindarkan dari murka 1 Tes. 110. 1 Tes. 413-18 - Kedatangan Tuhan yang dekat accelerated coming Bagian ini berbicara tentang eskatologi dan kedatangan Tuhan Parousia. Konteks bagi-an ini adalah jemaat yang berduka tentang saudara-saudara mereka yang telah mati. Je-maat tidak tahu tentang orang-orang yang telah mati. Mungkin mereka berpikir bahwa orang-orang yang sudah mati akan lenyap begitu saja. Karenanya Paulus kemudian mengatakan bahwa orang-orang mati dikumpulkan Allah bersama-sama Dia Yesus. Ini berbeda dengan pemahaman Perjanjian Lama tentang Sheol di mana orang-orang mati dikumpulkan di dunia orang mati. Yang hidup tidak akan mati melainkan akan menga-lami kedatangan Tuhan. Nampaknya Paulus menantikan kedatangan kembali Tuhan saat ia masih hidup. Pada hari kedatangan Tuhan, malaikat berseru dan sangkakala ber-bunyi. Ia datang/turun dari surga. Orang-orang mati akan bangkit lebih dulu Perjumpaan di Angkasa Paulus menyatakan bahwa “kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa” 1 Tes. 45. Frasa “kita yang hidup, yang masih tinggal” ἡ μεῖ οἱ ζ͂ νε οἱ περιλειπό μενοι yang digunakan dalam teks merujuk kepada Paulus dan jemaat Tesalonika. Paulus meyakini kedatangan Tuhan akan terjadi saat ia masih hidup dan jemaat Tesalonika masih hidup. Fakta bahwa ia dipenggal mati pada tahun 64-65, menunjukkan bahwa nubuat ini tidak terjadi atau gagal. Hal ini sejajar dengan 1 Korintus 1550-52. Ada perjumpaan di angkasa antara Tuhan dan para pengikut-Nya. Berkumpul di awan-awan, di angkasa. Angkasa yang mana? Gambaran perjumpaan ini menunjukkan pengaruh kosmologi kuno bumi datar. 2 Petrus Surat ini berisikan tentang kedatangan Tuhan pada 2 Petrus 31-13. 2 Petrus 310 me-nyatakan “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.” Kemudian, 2 Petrus 312 menyatakan “yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena Anthony C. Thiselton, 1 and 2 Thessalonians through the Centuries Oxford Willey & Blackwell, 2011, 117. Arthur L. Moore, New Century Bible 1 and 2 Thessalonians London Nelson, 1969, 67. Asigor P. Sitanggung Pengaruh Kosmologi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 99 nyalanya.” Kelly melihatnya sebagai sebatas bencana kosmik. Apa yang dinyata-kan dalam kedua ayat tersebut, langit akan lenyap’ dan langit akan binasa dalam api’ hanya mungkin terjadi dalam pemahaman kosmologi kuno bumi yang datar. Langit di sini dipahami serupa dengan yang muncul dalam narasi penciptaan di Kitab Kejadian. Penutup Sebelum memulai bagian ini, perlu diperhatikan bahwa makalah ini tidak mengusulkan suatu bentuk rekonstruksi yang final melainkan mengajak para pembaca untuk turut memikirkannya dan bergumul bersama untuk membangun rekonstruksi bersama. Rudolf Bultmann mengatakan bahwa pernyataan dalam 1 Tesalonika 417 “kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa” tidak boleh dipahami secara ksomologis melain-kan secara eksistensial. Artinya, semua yang dikisahkan adalah bersifat mitologis, sehingga tidak boleh ditafsirkan secara kosmologis sebagai urutan-urutan kejadian kosmologis yang akan terjadi di masa yang akan datang. Gagasan Bultmann hadir menanggapi kritik para fisikawan sejak awal abad keduapuluh terhadap kosmologi yang dianut Gereja dan para teolognya. Walau demikian, hingga saat ini kosmologi ber-nuansa bumi datar masih memengaruhi teologi banyak berkaitan dengan argumentasi Bultmann tersebut, maka sesungguhnya Pengakuan Iman Rasuli maupun Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel mengakui hadirnya dunia tiga lapis, yaitu bumi, surga di mana Yesus naik, dan dunia orang mati di mana Yesus turun. Ini sesungguhnya adalah warisan pengaruh kosmologi bumi datar, yang memahami alam memiliki struktur tiga rangkap, atas ouranos, langit atau surga, tengah kosmos, bumi dan bawah Hades dunia orang mati ataupun Tartaros atau neraka. Bila ini tidak akan diubah, maka katekumen-katekumen mesti dididik bahwa ini bukanlah konteks kosmologis dalam perspektif modern melainkan konteks kosmologis pada zaman dahulu. Walaupun demikian, demitologisasi Bultmann sudah ditentang oleh banyak orang karena sebetulnya dengan demikian, jika program demitologisasi diterapkan secara konsisten, ia malah bertentangan dengan theisme; ia bertentangan dengan passio Christi, bahwa Kristus benar-benar telah mati dan bangkit. Pannenberg menentang hal ini. Baginya, divine intervention justru sangat fundamental bagi setiap pemahaman religius akan kata lain, divine intervention diyakini masih dimungkinkan untuk Kelly, A Commentary on the Epistles of Peter and Jude London A&C Black, 1969, 364. Rudolf Bultmann, New Testament Mythology, ed. Schubert M. Ogden. Philadelphia Fortress, 1984 isalnya lih. M. Davidson, “Modern Cosmology and Theologians” dalam Vistas Astronomy, vol. 1 Elservier Science, 1955 167-168. Matan Shapiro, “Brajisalem Biblical Cosmology, Power Dynamics and the Brazilian Political Imagination” dalam Ethnos Journal of Anthropology 2019, DOI Wolfhart Pannenberg, Basic Questions in Theology, vol. 3 London SCM, 1973, 68. BIA’ Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual, Vol 3, No 1 Juni 2020 Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 100 terjadi. Maka kombinasi dari keduanya dapat dipertimbangkan, yaitu bahwa divine intervention tetap ada, namun pemahaman kosmologi diubah. 4. Kesimpulan Karenanya upaya yang diusulkan adalah rekonstruksi atas teks-teks eskatologis tersebut. Yang pertama, adalah dekonstruksi atau membongkar terlebih dahulu teks-teks yang dibangun dalam pemahaman kosmologi bumi datar tersebut sekaligus melihat teks dalam perspektif tersebut. Kedua, rekonstruksi atau membangun ulang teks-teks tersebut, dengan menaruhnya pada konteks kini. Dengan demikian, kosmologi yang dimiliki adalah tidak lagi bumi datar melainkan bumi bulat, tidak lagi kosmosentris melainkan heliosentris, dan tidak lagi berjenjang tiga, dunia bawah-dunia tengah-dunia atas tetapi sebagai satu kesatuan. Karenanya, upaya rekonstruksi yang dapat dianjurkan kemudian adalah melakukan reinterpretasi terhadap teks-teks eskatologis yang berbasis kosmologi bumi datar, kosmosentris dan dunia tiga tingkat, dan kemudian menggantinya dengan kosmologi bumi bulat, heliosentris dan dunia yang utuh. Sebagai contoh, teks Markus 1325 menyatakan bahwa bintang-bintang akan berja-tuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan guncang, tetapi bumi tetap ada ay. 27 dan tidak menjadi hancur. Dengan demikian, teks ini tidak lagi dipahami demikian dan diterima secara harfiah. Bila dipahami secara harfiah, maka sesungguhnya hal ini mustahil terjadi. Satu bintang saja matahari adalah bintang menimpa bumi, bumi pasti hancur-lebur dekonstruksi teks. Maka yang dapat digambarkan ulang adalah terja-dinya bencana alam yang besar namun tidak menghancurkan bumi rekonstruksi teks. Implikasi lain yang membuka kemungkinan penelitian selanjutnya adalah pemaha-man tentang surga dan neraka yang bersifat lokalistik. Surga yang dipahami di atas dan neraka di bawah merupakan hasil pengaruh dari kosmologi bumi datar. Ini membuka ruang untuk penelitian biblis lebih lanjut mengenai surga dan neraka dalam pembacaan kosmologi bumi bulat. Referensi Balabanski, Victoria. Eschatology in the Making Mark, Matthew and Didache Cambridge Cambridge University Press, 1997 Bultmann, Rudolf. New Testament Mythology, ed. Schubert M. Ogden. Philadelphia Fortress, 1984. Couprie, Dirk L. Heaven and Earth in Ancient Greek Mythology, New York Springer, 2011. Davidson, M. “Modern Cosmology and Theologians” dalam Vistas Astronomy, vol. 1 Elservier Science, 1955 167-168. Daly, Kathleen dan Marian Rengel, Greek and Roman Mythology A to Z, New York Facts on File. Douglas, ed. penyelia Ensiklopedia Alkitab Masa Kini jilid 1, Jakarta YKBK, 1995. Geddert, Timothy J. Believer’s Church Bible Commentary Mark, Scottdale Herald Press, 2001. Hard, Robin. The Routledge Handbook of Greek Mythology, London Routledge, 2004. Asigor P. Sitanggung Pengaruh Kosmologi Bumi Datar dalam Eskatologi Alkitab Copyright© 2020; BIA’, ISSN 2655-4666 print, 2655-4682 online 101 Houle, Michelle M. Gods and Goddesses in Greek Mythology, Berkeley, Enslow Publisher, 2001. Kelly, A Commentary on the Epistles of Peter and Jude, London A&C Black, 1969. LAI, Merajuk Kebersamaan dalam Sabda Konsultasi Nasional Revisi Alkitab Terjemahan Baru Konas TB2, Jakarta LAI, 2018. Mitchell, Gordon. Together in the Land A Reading of the Book of Joshua, Sheffield Sheffield Academic Press, 1993. Moore, Arthur L. New Century Bible 1 and 2 Thessalonians, London Nelson, 1969. Pannenberg, Wolfhart. Basic Questions in Theology, vol. 3. London SCM, 1973. Pecker, Jean-Claude. Understanding the Heavens Thirty Centuries of Astronomical Ideas from Ancient Thinking to Modern Cosmology, Berin Springer Verlag, 2001. Roman, Luke dan Monica Roman, Encyclopedia of Greek and Roman Mythology, New York Facts on File, 2010. Shapiro, Matan. “Brajisalem Biblical Cosmology, Power Dynamics and the Brazilian Political Imagination” Ethnos Journal of Anthropology 2019, DOI Taft Michael, ed., Greek Gods and Goddesses, New York Britannica, 2014. Thiselton, Anthony C. 1 and 2 Thessalonians through the Centuries, Oxford Willey & Blackwell, 2011. Walton, John. The Lost World of Genesis One Ancient Cosmology and the Origins Debate, Downers Grove Intervarsity Press, 2009. Roy Charly HP SipahutarArtikel ini adalah suatu upaya mencari makna ekoteologis dari teks penciptaan yang ada dalam Sastra Hikmat Perjanjian Lama. Subordinasi tema penciptaan dengan tema teologi lain dalam Perjanjian Lama membuatnya tidak dapat berbicara secara utuh. Demikian pula upaya yang dilakukan dalam menggali tema penciptaan biasanya hanya seputar teks dalam kitab Kejadian, hal tersebut menafikan bahwa ada bagian lain dalam Perjanjian Lama yang berbicara lantang tentang tema penciptaan ini. Oleh karena itu tulisan ini mencoba mengeksplorasi tema penciptaan dari bagian Sastra Hikmat Perjanjian Lama dengan menggunakan metode studi pustaka, meneliti sumber-sumber referensi dari penelitian yang berkaitan dengan teks terpilih dan mengimplementasikannya bagi tanggung jawab umat terhadap pemeliharaan alam. Hasil penelitian mengemukakan bahwa manusia adalah ciptaan yang bertanggung jawab menjamin keteraturan alam, hikmat Tuhan memampukan manusia untuk menjadi sahabat alam. Matan ShapiroBased on fieldwork with Brazilian neo-Pentecostal pilgrims to the Holy Land and ongoing survey of social media in this article I argue that Brazilian neo-Pentecostals increasingly imagine Brazil as a Promised Land and the Brazilian People as the People of God. Here, different substances associated with the Holy Land, the Jewish People and Jesus Christ are used to disperse in Brazil divine power, which is seen to emanate from God. This imaginary seeks to replace the hegemony of the democratic ethos of power in Brazil, which is seen to emanate bottoms-up from the Brazilian People. I associate this process with the conservative wave sweeping through the Brazilian political system and show what a Brazilian political imagination whose spiritual and moral centre is located in Biblical Jerusalem may look like. Dirk CouprieIn Miletus, about 550 together with our world-picture cosmology was born. This book tells the story. In Part One the reader is introduced in the archaic world-picture of a flat earth with the cupola of the celestial vault onto which the celestial bodies are attached. One of the subjects treated in that context is the riddle of the tilted celestial axis. This part also contains an extensive chapter on archaic astronomical instruments. Part Two shows how Anaximander 610-547 blew up this archaic world-picture and replaced it by a new one that is essentially still ours. He taught that the celestial bodies orbit at different distances and that the earth floats unsupported in space. This makes him the founding father of cosmology. Part Three discusses topics that completed the new picture described by Anaximander. Special attention is paid to the confrontation between Anaxagoras and Aristotle on the question whether the earth is flat or spherical, and on the battle between Aristotle and Heraclides Ponticus on the question whether the universe is finite or infinite. “In this book, Dirk L. Couprie presents his efforts at clarifying the views of the pioneers of theoretical cosmology. It covers the crucial period from about the middle of the sixth until the middle of the fourth century with its focus on the magnificent figure of Anaximander. The book by Dirk Couprie constitutes an important and in several respects indispensable contribution to this field.” Dmitri Panchenko St. Petersburg State UniversityPhiladelphia Fortress, 1984 30 hiseltonRudolf BultmannRudolf Bultmann, New Testament Mythology, ed. Schubert M. Ogden. Philadelphia Fortress, 1984 30 hiselton, 119.. M Isalnya LihDavidsonisalnya lih. M. Davidson, "Modern Cosmology and Theologians" dalam Vistas Astronomy, vol. 1 Elservier Science, 1955 Routledge Handbook of Greek Mythology, London RoutledgeRobin HardHard, Robin. The Routledge Handbook of Greek Mythology, London Routledge, and Goddesses in Greek MythologyMichelle M HouleHoule, Michelle M. Gods and Goddesses in Greek Mythology, Berkeley, Enslow Publisher, N D KellyKelly, A Commentary on the Epistles of Peter and Jude, London A&C Black, 1969. LAI, Merajuk Kebersamaan dalam Sabda Konsultasi Nasional Revisi Alkitab Terjemahan Baru Konas TB2, Jakarta LAI, in the Land A Reading of the Book of JoshuaGordon MitchellMitchell, Gordon. Together in the Land A Reading of the Book of Joshua, Sheffield Sheffield Academic Press, L MooreMoore, Arthur L. New Century Bible 1 and 2 Thessalonians, London Nelson, 1969. Pannenberg, Wolfhart. Basic Questions in Theology, vol. 3. London SCM, 1973. Pecker, Jean-Claude. Understanding the Heavens Thirty Centuries of Astronomical Ideas from Ancient Thinking to Modern Cosmology, Berin Springer Verlag, 2001. Jawaban Alkitab Apa artinya ”keempat ujung bumi” dalam Alkitab? Ungkapan ”keempat ujung bumi” dan ”ujung-ujung bumi” dalam Alkitab tidak bisa diartikan apa adanya, seolah-olah bumi itu berbentuk persegi atau ada ujungnya. Yesaya 1112; Ayub 373 Sebaliknya, ungkapan itu sebenarnya memaksudkan seluruh permukaan bumi. Alkitab juga menggunakan istilah empat arah mata angin untuk memaksudkan hal yang serupa.​—Lukas 1329. Istilah Ibrani yang diterjemahkan menjadi ”ujung” kelihatannya adalah ungkapan yang berasal dari kata ”sayap”. ”Karena sayap burung dibentangkan untuk memayungi anak-anaknya,” menurut The International Standard Bible Encyclopedia, ”[istilah Ibrani ini] mengandung gagasan tentang bagian tepi dari sesuatu yang direntangkan.” Karya referensi itu juga menjelaskan bahwa dalam Ayub 373 dan Yesaya 1112, ”istilah itu berarti pesisir, batas, atau tepi permukaan daratan di bumi”.b Bagaimana dengan peristiwa saat Yesus digoda Iblis? Sewaktu menggoda Yesus, Iblis membawa dia ”ke sebuah gunung yang luar biasa tinggi dan memperlihatkan semua kerajaan di dunia dan kemuliaannya”. Matius 48 Karena kisah itu mengatakan bahwa hal-hal itu bisa dilihat dari suatu lokasi tertentu, ada yang beranggapan bahwa seluruh bumi itu datar. Tapi, ”gunung yang luar biasa tinggi” kelihatannya hanyalah suatu ungkapan, tidak memaksudkan gunung sungguhan. Perhatikan kenapa kesimpulan itu masuk akal. Kita tidak bisa melihat semua kerajaan di dunia ini dari puncak gunung mana pun di bumi. Iblis tidak hanya memperlihatkan kepada Yesus semua kerajaan tapi juga ”kemuliaannya”. Perincian seperti itu tidak mungkin bisa dilihat dari jauh. Jadi, Iblis sepertinya membuat Yesus melihat hal-hal itu melalui semacam ilusi atau penglihatan. Ini mungkin mirip dengan seseorang yang memakai layar bioskop untuk menunjukkan gambar-gambar dari berbagai tempat di bumi. Catatan lain tentang kisah ini menunjukkan bahwa Iblis ”dalam sekejap memperlihatkan kepada [Yesus] semua kerajaan dunia”. Lukas 45 Secara alami, mata manusia tidak bisa melihat hal-hal itu dalam sekejap. Ini menunjukkan bahwa semua hal itu tidak benar-benar ada di depan Yesus, tapi Iblis menampilkannya dengan cara lain.